Perbedaan
sumpah palapa dengan sumpah pemuda
v Sumpah Palapa adalah suatu
pernyataan yang dikemukakan oleh Gajah Mada pada upacara pengangkatannya
menjadi Patih Amangkubumi Majapahi tahun 1336 M. Semangat Sumpah Palapa adalah
semangat sentralisasi, bagaimana menjadikan kerajaan Majapahit sebagai Sentra
kekuasaan di Nusantara. Sumpah Palapa membahas masalah kekuasaan yang ingin
diraih oleh seorang raja yang bernama Gajah Mada yang memiliki ambisius untuk
menguasai nusantara.
Mahapatih Gajah Mada bertekad mempersatukan nusantara dan menjadikan majapahit
sebagai porosnya. Tentu saja Sumpah Palapa tak lepas dari kerangka niat untuk
menjadikan Nusantara Satu dengan ambisi politik yang kental, karena satunya
Nusantara dalam rangka menguatkan kekuasaan. Hasilnya, jika menapaktilasi jejak
Sumpah Palapa, maka Indonesia saat ini adalah sebagian dari nusantara yang
dicita-citakan dalam Sumpah Palapa.
Isi Sumpah Palapa :
Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah
Mada, “Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa.
Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda,
Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa”.
Sumpah Pemuda adalah suatu pernyataan yang dikemukakan oleh Moh.Yamin untuk
menjadikan Indonesia Satu tak dimulai dengan kekuasaan, tapi rasa kesatuan yang
diliputi
cinta, yaitu cinta tanah air, cinta bangsa dan cinta bahasa. Sumpah Pemuda
pasti lahir dari kesadaran akan keragaman dan keyakinan dari kekuatan harmoni.
Keragaman yang dikelola dengan baik, diikat dengan sebuah sumpah, akan
menghasilkan Indonesia Satu yang berbhineka namun mencapai kejayaan sebagai
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sumpah Pemuda mengupas atau membahas
mengenai masalah pengakuan untuk Putra Putri bangsa Indonesia untuk terus
menanamkan dalam dirinya kecintaan serta rasa bangga terhadap Negara republic
Indonesia yang diperjuangkan dengan keras oleh para pejuang terdahulu. Semangat
Sumpah Pemuda adalah semangat konvergen, datang dan bersatu karena dikendalikan
oleh keyakinan bahwa keberadaan para pemuda di tanah air yang berbeda, di satu
titik menemukan kesamaan, sebagai bangsa yang sama dan berkomunikasi dengan
bahasa yang sama, tentu sudah Tuhan takdirkan untuk membawa Indonesia menjadi
negara yang harmoni negara yang ber-Bhineka Tunggal Ika.
Isi Sumpah Pemuda :
Pertama.
Kami poetera dan poeteri indonesia mengakoe bertoempah-darah jang satoe, tanah
indonesia.
Kedoea.
Kami poetera dan poeteri indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa
indonesia.
Ketiga.
Kami poetera dan poeteri indonesia mendjoendjoeng bahasa persatuan, bahasa
indonesia
Rasa –rasanya kalau kita amati tiap kali dalam
peringatan sumpah pemuda, selalu banyak muncul tulisan tentang sumpah pemuda
dengan tema – tema konvensional, seperti misalnya menggali makna didalamnya,
atau selalu muncul ucapan selamat sumpah pemuda yang bertebaran di seluruh
penjuru Kota. Atau juga banyak diadakan dialog – dialog seputar sumpah pemuda
di berbagai stasiun televisi. Akan tetapi, setelah itu, selalu muncul preseden
buruk tentang pemuda, seperti misal terjadinya kasus perkelahian antar pelajar,
atau bentrokan mahasiswa di berbagai kampus, yang belakangan ini marak,
bukankah ini merusak citra pemuda itu sendiri.
Kasus terbaru, kita bisa melihat bentrok antar mahasiswa di kampus
Universitas Pamulang Tangerang Selatan, yang membuat Kapolsek Pamulang jatuh
tersungkur dan berbuntut pada penangkapan 9 mahasiswa. Kasus serupa juga
terjadi di Universitas Negeri Makassar yang menwaskan seorang mahasiswa, atau
juga tawuran yang melibatkan pelajar SMA 6 dan SMA 70 yang menewaskan seorang
pelajar. Lalu sebuah pertanyaan muncul dan terbenak di pikiran, sudahkah
semangat sumpah pemuda merasuk kedalam jiwa tiap insan muda Indonesia, wabil
khusus para mahasiswa?
Pemuda nusantara dan puncak kesejarahan mereka
Well, mari kita sedikit belajar dari sejarah tentang semangat nasionalisme
yang selalu muncul di setiap zamannya, tidak hanya setelah RI merdeka, akan
tetapi jauh sebelum itu, semangat persatuan itu sudah tumbuh dan berkembang
dalam setiap zaman kebangsaan kita. karena jika kita memperhatikan, semua
penggalan sejarah tersebut memiliki kesinambungan dan benang merah yang
menautkan satu sama lain. Setidaknya ketika kita belajar dari sejarah nusantara
Indonesia raya ini.
Kalau kita amati beberapa sejarah singkat tentang sumpah palapanya gajah
mada, atau mudiknya Airlangga ke Bali, memiliki arti penting tentang persatuan
kaum muda, saya sebut mereka muda karena usia mereka saat mencapai puncak
kegemilangan sejarah adalah masih usia relatif muda.
Pada masa majapahit, kita mengenal Gajah Mada dengan sumpah palapa yang ia
ucapkan. Sumpah palapa untuk tidak mengikuti arus perpecahan. Sumaph tersebut
adalah manifestasi dari konsep Bhinneka Tunggal Ika. Bisa berbeda kelompok atau
kepentingan, namun mengedapankan kepentingan utama, alias kepentingan nasional
yang lebih luas.
Namun ternyata kebijakannya tersebut tidak membuat banyak pihak senang.
Langkahnya beresiko menyakiti pangeran Sunda. Dalam konteks kekinian, kita
menyebutnya sebagai sosok yang berani ‘beda’, atau sosok kontroversial. Dan
hasilnya secara simbolik, Gajah Mada mengucapkan sumpah palapa, tidak makan
buah palapa sebelum persatuan nasional tercapai.
Pun demikian dengan Airlangga, yang akhirnya mudik dari Bali dan menuju ke
Jawa untuk mengawini putri Jawa. hal tersebut menandai tekad bulatnya untuk
menyatukan Jawa dan Bali.
Visioner.
Yang lebih revolusioner lagi tentu adalah peristiwa sumpah pemuda tahun
1928. Tepatnya tanggal 28 Oktober 1928, sejumlah pemuda yang tergabung dalam
perhimpunan Pemuda Pelaja Indonesia (PPPI) menggelar Kongres Pemuda (KP) II di
Jakarta. Berbgai macam latar belakang pemuda seperti Jong celebes, Jong Java,
Jong Soenda, Jong Sumatranen, Jong Betawi, dan sebagainya mengikrarkan sumpah
pemuda.
Hal yang patut diapresiasi sebagai bentuk kesejarahan para pemuda tersebut
adalah, bahwa mayoritas alumni KP II itu menjadi tulang punggung tim
pemerintahan RI pasca merdeka. Walaupun tak tertera nama Soekarno-Hatta di
sana, akan tetapi nama – nama alumni KP II seperti Moh Yamin, Wilopo, Amir
Syarifudin, Arnold Mononutu, Sartono, Kasman Singodimedjo, Moh Roem, dan
Johanes Leimena adalah alumni KP II yang menggapai puncak kesejarahannya saat
menduduki jabatan penting di tim-tank RI Soekarno-Hatta.
Mencapai kesejerahan personal dan kebangsaan
Para pemuda nusantara tersebut sudah membuktikan, dengan menjadi agak beda,
mereka telah menunjukkan prestasi besar kebangsaan mereka dalam romantika
perjalanan bangsa Indonesia. para pemuda nusantara tersebut, yang dikenal
kontroversi, pada akhirnya menjadi tulang punggung kelangsungan hidup bangsa
Indonesia.
Well, bagaimana seharusnya menyikapi kesenjangan mental kepahlawanan pemuda
masa kini dengan pemuda nusantara masa lampau?
Tentu kita mengenal istilah, tiap zaman punya anak zaman masing – masing.
Kita tulis saja bahwa dalam konteks zaman – zaman tersebut, mereka telah
menjadi anak zaman masing – masing. Maka, berawal dari logika ini, kita telah
menyebut, seharusnya sekarang kitalah yang menjadi anak zaman bangsa ini.
Kitalah yang seharusnya membawa Indonesia ke tangga tertinggi pencapaian
kebangsaan Indonesia. kalau mereka, para pemuda nusantara tersebut menyejarah
karena sikap yang menentang arus, maka sikap menentang arus dalam artian
positif inilah yang harus kita budayakan dan berdayakan di kalangan pemuda kita
saat ini.
Mental kepahlawanan yang turun dewasa ini, bahkan bisa dikatakan anjlok ke
jurang terdalam, adalah disebabkan oleh kurang bisanya kita (para pemuda) untuk
menafsirkan zaman saat ini. Pun demikian hal tersebut diperparah dengan
penjajahan model baru berupa kapitalisme yang merenggut jantung nurani
kepemudaan kita. mental kepahlawanan yang dulu menjadi ciri khas para pemuda
nusantara, kini hilang ditelan bumi, bahkan hancur berkeping – keping.
Lalu, bagaimana seharusnya para pemuda nusantara membangkitkan kembali
mental kepahlawanannya? Bisakah kita memugar citra buruk pemuda saat ini
menjadi sebuah kepahlawanan muda yang heroik dan revolusioner?
Impossible is nothing.
20-30 tahun lagi, Indonesia akan dipimpin oleh seorang pemimpin muda yang
mau berbeda dari kebanyakan pemuda, yang berasala dari kapasitas – kapasitas
kepahlawanan personal yang dimilikinya. Kapasitas tersebut adalah kapasitas
ideologi, jaringan, dan finansial. Tiga hal tersebut yang menjadikan kunci
menuju puncak kesejarahan personal dan kebangsaan kaum muda.
Ideologi diperlukan untuk membentuk karakter diri, sehingga berawal dari
kokohnya ideologi tersebut, seseorang tersebut mampu melakukan positioning yang
baik dalam setiap meomentum yang ada. Dan inilah yang biasa disebut para
ideolog bangsa. Mereka tercipta bukan hanya karena bakat kepemimpinannya saja,
akan tetapi polesan – polesan serta lingkungannyalah yang membentuk karakter
dirinya dengan baik. Untuk yang satu ini, para ideolog terbentuk karena
kebiasaan mereka melakukan proses ideologisasi yang kontinyu, aktual, dan
berisfat kontemporer. Dan mereka lahir dari rahim gerakan pemuda yang masih
memegang teguh proses ideologisasi kadernya.
Yang kedua, adalah kapasitas jaringan. Dalam konteks kekinian, eksistensi
kita hanya akan diakui dalam segi kapasitas personal, akan tetapi hal tersebut
tidaklah cukup tanpa dibarengi dengan kokohnya jaringan. Karena para pahlawan
tersebut hidup dalam komunitas manusia, maka harus ada pengakuan dari manusia
lain kepada para pahlawan tersebut, disinilah fungsi jaringan. Semakin besar
jaringan yang dimiliki oleh para pemuda pahlawan, maka semakin besar peluang
bagi dirinya untuk mampu mempengaruhi publik dengan kapasitas kepahlawanannya.
Contoh yang bisa diambil adalah bagaimana seorang gajahmada yang memiliki
jaringan sampai ke negeri nusantara, untuk kemudian mampu memudahkan misinya
mneyatukan nusantara. Atau juga Airlangga yang melakukan ekspansi jaringan ke tanah
jawa, agara eksistensi kepahlawanan dirinya dalam konteks personal, serta
persatuan jawa –Bali dalam konteks sosial, dapat terwujud.
Dalam konteks kekinian, jaringan yang dimaksud salah satunya adalah
penguasaan media, karena kita hidup di dua dunia, maka keberdayaan kita dalam
menguasai media, turut menentukan nasib kepahlawanan kita, baik secara personal
maupun kebangsaan.
Daya dukung finansial adalah syarat ketiga yang harus dipenuhi oleh para
pahlwan pemuda tersebut. Ini sudah syarat mutlak yang mesti dimiliki ketik kita
menginginkan kemenangan dalam konteks visi mulia kita, finansial menjadi satu
sebabnya. Kita tentu masih teringat kemenangan Jokowi-Ahok di Pilkada Jakarta.
Selain tentunya peran kemasan media yang cantik, peran – peran finansial yang
kuat, didukung oleh para pengusaha China, turut menentukan suksesnya Jokowi
menjadi jakarta 1.
Belajar dari peristiwa ini, tentu kita sangat faham, sebersih apapun profil
dari tokoh tersebut, kalau tidak didukung finansial yang kuat, dia tetap akan
terkalahkan oleh raksasa bernama uang. Maka, perlu kiranya, kita, para pemuda,
melakukan positioning diri kita untuk menjadi enterpreneurship muda, tentunya
dalam konteks mendukung kepahlawanan muda kita dimasa yang akan datang.
Well, begitulah, sejarah pemuda nusantara selalu dibumbui dengan romantika
kepahlawanan yang cukup membuat sejarah jatuh hati, lalu menuliskannya dalam
sejarah panjang keberadaan bangsa ini. Selanjutnya, tinggal kita, bagaimana
kemudian kita membuat sang pena sejarah jatuh hati kepada kita, untuk
menuliskan kesejarahan personal dan kebangsaan kita, untuk mengangkat indonesia
ke puncak kesejarahannya.